Kita Peduli Kita Bisa Atasi

Membangun Kepribadian Wira Usaha Bagi Pemula

Pembahasan topik ini bertujuan untuk membangkitkan keyakinan, kemauan, kepercayaan diri dan kemampuan warga miskin dalam ikhtiar merobah nasibnya sendiri dengan melakukan usaha menggunakan modal pinjaman dana bergulir dari UPK P2KP. Proses itu, diawali dengan menggugah kesadaran tentang kemampuan akal budi mereka yang masih terpendam, yang perlu digerakkan untuk mengembangkan kehidupan sosial-ekonomi yang lebih baik bagi keluarganya. Kesadaran tentang hal tersebut, adalah fondasi penting untuk membangun kepribadian wirausaha.  Apabila upaya menggugah kesadaran berhasil, akan tumbuh dorongan internal yang kuat untuk melakukan ikhtiar (motivasi untuk berusaha). Kematangan psikologis seperti itu  diperlukan untuk tahap pengembangan selanjutnya, mempelajari kemampuan yang lebih teknis untuk memulai usaha. Sebagai langkah awal menggugah kesadaran, kita ajak mereka melihat kenyataan ini :

Sumber hidup puluhan juta orang
Puluhan juta rakyat Indonesia, hidup dari usaha mandiri; melakukan usaha tani (petani), menangkap ikan di laut (nelayan), memelihara ternak (peternak), membuat tempe (industri rumah tangga), membuka warung (pedagang), angkutan sepeda motor (ojek), membuka bengkel sepeda, bengkel sepeda motor,  reparasi peralatan elektronik, mengelas pagar (jasa), dan aneka jenis kegiatan usaha lainnya. Orang tua, saudara atau tetangga mereka mungkin memiliki sumber nafkah seperti itu. Namun, hanya sedikit dari mereka yang berkembang dalam volume usahanya, dari mikro menjadi kecil, menengah dan besar.

Memburuh atau usaha mandiri
Menjadi tenaga akhli profesional dalam bidang tertentu seperti akuntan, akhli konstruksi, akhli teknologi informasi, akhli perekayasaan mesin, atau menjadi pegawai negeri yang kompeten dan berbagai jenis pekerjaan dengan keakhlian khusus yang memerlukan pendidikan dan pengalaman, adalah kesempatan yang sangat sempit bagi rakyat miskin. Sementara menjadi buruh pabrik, upahnya sangat kecil dan tidak mencukupi untuk biaya hidup seluruh anggota keluarga. Tingkat upah seperti itu tidak memungkinkan sebuah keluarga berkembang, bahkan untuk sekedar hidup-pun susah. Barangkali malah  dapat dikatakan melanggengkan kemiskinan. Itupun kesempatannya sangat sedikit.

Usaha mandiri tidak bergengsi ?
Berusaha atau dalam bahasa sehari-hari  disebut ”berdagang”, secara sosial budaya  (yang berlatar-belakang masyarakat pertanian dan priyayi), kurang dihargai, dianggap ”tidak punya status”, ”tidak bergengsi” dan beragam pandangan lain yang merendahkan. Orang lupa bahwa Nabi Muhamad, Rassululah Salalahu Alaihi Wasalam yang menjadi panutan milyaran umat Islam di seluruh dunia adalah seorang pedagang sukses yang tekun, cermat, jujur, ramah dan santun. Begitu terpercayanya beliau menjalankan usaha orang lain, sampai-sampai si Pemilik jatuh cinta dan menjadi isterinya yang sangat berbakti ; Siti Kotijah. Jadi, melakukan usaha secara tekun dan jujur adalah halal, terhormat dan memberikan kemungkinan untuk hidup berkecukupan.

Sumber nafkah keluarga; tunggal atau beragam ?
Dari berbagai hasil studi dan pengamatan langsung dalam kehidupan sehari-hari nampak jelas, rumah tangga yang pada awalnya miskin kemudian hidup berkecukupan, cenderung mengembangkan dan memiliki beragam sumber pendapatan keluarga dengan menggerakkan sumber daya yang dimiliki; tanah/lahan, tenaga/anggota keluarga, peralatan produksi, bakat, hubungan sosial,  informasi; dan selalu mencari peluang usaha yang menguntungkan. Mereka mengelola penghasilan itu dengan prinsip surplus dan produktif.

Masalah atau peluang ?
Ketika di seluruh Pulau Madura listrik padam karena kabel bawah lautnya putus ditabrak kapal; banyak orang kemudian berkeluh

kesah, marah, dan mengeluarkan sumpah serapah menghadapi masalah kegelapan tersebut. Apalagi untuk memperbaiki kerusakan itu, ternyata makan waktu cukup lama.
Tidak demikian halnya dengan mereka yang memiliki jiwa wirausaha. Mereka segera mencari sumber modal dan pergi ke Surabaya memborong bertruk-truk lilin, lampu teplok, senter dan generator mini, — karena ”melihat masalah kegelapan sebagai peluang”. Pada umumnya  orang melihat kegelapan karena listrik padam itu sebagai ”masalah” dan sumber kekecewaan semata. Hanya sebagian kecil orang yang melihat peluang untuk mendapat untung  ratusan juta dari masalah  kegelapan dengan  ”menjual  terang” dimalam hari ( berdagang lilin, lampu teplok, senter), dan daya listrik pengganti (generator mini) untuk mereka yang mampu.

Tidak demikian halnya dengan mereka yang memiliki jiwa wirausaha. Mereka segera mencari sumber modal dan pergi ke Surabaya memborong bertruk-truk lilin, lampu teplok, senter dan generator mini, — karena ”melihat masalah kegelapan sebagai peluang”. Pada umumnya  orang melihat kegelapan karena listrik padam itu sebagai ”masalah” dan sumber kekecewaan semata. Hanya sebagian kecil orang yang melihat peluang untuk mendapat untung  ratusan juta dari masalah  kegelapan dengan  ”menjual  terang” dimalam hari ( berdagang lilin, lampu teplok, senter), dan daya listrik pengganti (generator mini) untuk mereka yang mampu.

Kewajiban melakukan ihktiar terbaik
Secara akidah, bagi umat Muslim Allah SWT telah memfirmankan acuan yang sangat jelas didalam salah satu ayat Al Qur’an untuk tidak menyerah kepada nasib. Acuan itu sangat tegas dan konsisten namun kurang mewarnai sikap hidup dan perilaku kita : ”Allah SWT tidak akan merobah nasib orang atau kaum kalau orang atau kaum itu tidak berusaha untuk merobah nasibnya sendiri”. Sementara ada lagi acuan dalam Hadist ” Bekerjalah sekeras-kerasnya (mencari rejeki), seolah-olah kamu tidak akan mati, dan beribadahlah sebaik-baiknya seolah-olah besok pagi akan datang hari kiamat”.

MEWUJUDKAN  ”MIMPI BERWARNA”
Siapapun wajib menyatakan perang terhadap kemiskinan. Namun ”berperang” tanpa persiapan dan strategi yang tepat, — hanya sekedar latihan baris-berbaris dan membawa penthungan –,  adalah tindakan yang konyol. Apalagi tanpa memetakan dengan jernih kekuatan sendiri serta ”posisi dan kekuatan lawan”. Tindakan itu, bukan gelar perang, tetapi bunuh diri. Memerangi kemiskinan dengan sekedar membagi uang (atau bagi warga miskin yang masih potensial tetapi hanya sekedar mengharap bantuan) ibarat tindakan bunuh diri dengan maju perang membawa penthungan.
Sikap budaya dan praktek ”memberi dan menerima derma karena rasa  belas kasihan kepada warga miskin yang masih potensial ”  (pendekatan karitatif) seperti itu kurang taat kepada firman Allah Swt, yang mewajibkan ikhtiar sepenuh akal budi dengan semangat swadaya dan percaya diri. Kecuali bagi mereka yang cacat, orang jompo yang  tak memiliki keluarga dan anak-anak terlantar, menjadi kewajiban negara (dan setiap Muslim yang mampu) untuk menyantuni. Untuk membangkitkan semangat, harapan dan kepercayaan diri ajaklah mereka berdiskusi dalam kelompok tentang pokok-pokok dibawah ini dan merenungkan hasilnya:

1.  Mensyukuri karunia Allah
Allah mengkaruniakan kepada setiap orang; pikiran, perasaan, hati, dan akal budi. Yang membedakan adalah lingkungan budaya, sistim sosial-politik, kesempatan, kemampuan  dan ikhtiar. Lingkungan budaya seperti : maraknya takhayul, lemahnya penegakan hukum, konsumtif dan ”mendewakan uang”, mendamba kehidupan ”dugem”, ingin kerja ringan hasilnya banyak, korupsi, merendahkan kejujuran dan pengabdian ( ingat lagu Umar Bakri ?) dan kurang peduli kepada yang lemah; telah berpengaruh besar pada pembentukan karakter perorangan yang; selalu berkeluh-kesah, egois, kurang toleran, menyerah pada ”nasib buruk”, sedikit-sedikit marah, mudah beringas dan merusak. Tata nilai, sikap dan perilaku individu seperti itu menghambat perkembangan.

Hakekat dari semua ajaran agama samawi dan ciri masyarakat yang beradab adalah sikap santun, mencintai kebenaran dan melindungi golongan yang lemah. Padahal, diantara beragam hal yang buruk, dapat dicari yang baik. Diantara beragam kesengsaraan, ada relung-relung kebahagian. Pendeknya, orang perlu melihat hal-hal yang baik untuk disyukuri, dan menjadi titik tolak pengembangan agar memperoleh rahmat Allah lebih banyak lagi.

egois, kurang toleran, menyerah pada ”nasib buruk”, sedikit-sedikit marah, mudah beringas dan merusak. Tata nilai, sikap dan perilaku individu seperti itu menghambat perkembangan.
Hakekat dari semua ajaran agama samawi dan ciri masyarakat yang beradab adalah sikap santun, mencintai kebenaran dan melindungi golongan yang lemah. Padahal, diantara beragam hal yang buruk, dapat dicari yang baik. Diantara beragam kesengsaraan, ada relung-relung kebahagian. Pendeknya, orang perlu melihat hal-hal yang baik untuk disyukuri, dan menjadi titik tolak pengembangan agar memperoleh rahmat Allah lebih banyak lagi.

2.  Merumuskan tujuan hidup
Merumuskan tujuan hidup dengan jernih dan terukur, termasuk barang langka, apalagi dikalangan warga miskin yang ”hanyut” dalam hidup keseharian penuh kesulitan. Diduga pada kalangan masyarakat yang hidup berkecukupanpun hal ini jarang dilakukan. Tujuan hidup umumnya orang Indonesia saat ini adalah mencapai dengan segala cara kedudukan sosial yang tinggi dan menumpuk harta kekayaan sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan nilai-nilai moral, karakter dan perilaku yang menjamin kebahagiaan lahir, batin, dunia dan akhirat.  Membangun kewirausahaan dimulai dengan menggugah kesadaran tentang perlunya membangun karakter yang taat etika dan ikhtiar memperbaiki kehidupan dengan menetapkan tujuan hidup dan sasaran-sasaran yang terukur secara bertahap.
3.  Hidup senang dan membuat orang lain senang (SMS positif)
Wirausahawan yang sejati memiliki kemampuan komunikasi untuk membangun dan menikmati hubungan persahabatan yang tulus dengan orang lain. Banyak orang terseret pada ”rasa nikmat” untuk mempergunjingkan orang lain. Bahkan tanpa sadar terbangun karakter yang “SMS negatif”, senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang. Agar dapat diterima dalam pergaulan yang luas, memiliki banyak sahabat, seorang wirausahawan perlu membangun diri untuk memiliki karakter ”SMS positif”, senang membuat orang lain senang. Disenangi, dihargai dan dipercaya dalam pergaulan sosial sangat penting untuk mencapai keberhasilan usaha. Karena itu, ciri karakter yang perlu dibangun untuk menjadi wirausaha yang berhasil adalah, ”sadar, syukur, nalar, tulus, santun dan peduli, ditambah hidup produktif dan berbudaya surplus”.
4.  Harapan sebagai sumber motivasi,
Harapan adalah sumber motivasi, energi internal dan pendorong gerak setiap orang. Mengembangkan harapan (optimisme) yang disertai sikap sabar dan berikhtiar dengan tekun menjadi sangat penting. Kisah orang yang telah berhasil bebas dari kemiskinan dengan kegiatan usaha dapat menjadi cermin dan bahan belajar yang meneguhkan. Faktor-faktor apa yang membuat seseorang berhasil membebaskan diri dari kemiskinan dapat  ditelaah bersama sebagai pengalaman  nyata yang menarik (aktual dan empirik).
Ajaklah mereka untuk mengembangkan harapan kehidupan masa depan yang lebih baik. Kemudian melangkah belajar hidup berencana dengan menetapkan sasaran sederhana tertentu  yang ingin dicapai dalam jangka pendek; misalnya dalam setahun : ” Sampai dengan akhir tahun …………. saya ingin memiliki himpunan tabungan modal sendiri untuk mengembangkan usaha sebesar Rp……………….,-  Sasaran itu kemudian dirinci menjadi tindakan nyata yang dapat diukur. Yakinkan perlunya ketekunan untuk mulai berusaha dengan pinjaman dana bergulir, mengangsur secara tertib sesuai perjanjian dan menyisihkan secara disiplin sebagian dari laba usahanya untuk ditabung setiap hari, minggu atau bulan, sesuai kemampuan dan sasaran yang ingin dicapai.

jangka pendek; misalnya dalam setahun : ” Sampai dengan akhir tahun …………. saya ingin memiliki himpunan tabungan modal sendiri untuk mengembangkan usaha sebesar Rp……………….,-  Sasaran itu kemudian dirinci menjadi tindakan nyata yang dapat diukur. Yakinkan perlunya ketekunan untuk mulai berusaha dengan pinjaman dana bergulir, mengangsur secara tertib sesuai perjanjian dan menyisihkan secara disiplin sebagian dari laba usahanya untuk ditabung setiap hari, minggu atau bulan, sesuai kemampuan dan sasaran yang ingin dicapai.
5.  Akar perubahan
Yakinkan mereka bahwa akar dari probahan itu adalah; tekun berusaha, pendapatan yang meningkat, mengelola keuangan dengan prinsip surplus, rajin menabung dan menghimpun asset rumah tangga. Kalau sudah cukup uang, tetap dapat hidup sederhana, mengatur alokasi anggaran keluarga dengan cermat untuk memenuhi kebutuhan, dan tidak memperturutkan keinginan yang tidak berbatas.

SETELAH BULAT TEKAD KITA,
– MULAI –.
Serangkaian proses yang telah kita telaah bersama tersebut diatas; adalah tahapan mempersiapkan hati, pikiran, tekad dan motivasi untuk memperbaiki kehidupan dengan berusaha. Inilah jalan sempit yang mungkin berliku untuk menuju masa depan kehidupan yang berkecukupan dan layak bagi kemanusiaan.
Kalau kita berhenti disini, semuanya akan tinggal menjadi angan-angan. Angan-angan tidak merobah apa-apa. Untuk berobah, harus ada tindakan. Tindakan  akan merobah angan-angan menjadi kenyataan. Karena itu;  kita harus mulai.

1.  Mencari dan memilih peluang usaha
Langkah awal untuk memulai usaha adalah mencari dan memilih peluang, sesuai dengan  kemampuan (yang dapat dipelajari)  dan ketersediaan berbagai sumber daya yang diperlukan.
Kegiatan usaha dapat dipilih sesuai sektor dan jenis komoditasnya : 1) sektor produksi primer : a. pertanian (tanaman pangan, buah-buahan, bunga-bungaan, sayur-mayur, rempah-rempah, tanaman hias,); b. perkebunan (tebu, serat, kelapa sawit, jarak, karet, kopi, coklat, tembakau, lada); c. perikanan ( penangkapan ikan laut, budidaya ikan air tawar, tambak, ikan hias); d. peternakan (kuda, kerbau, sapi, kambing, ayam, itik, buaya, kelinci, anjing ras, babi, burung berkicau, lebah madu) e. Perhutanan (kayu, madu, bahan obat, berburu)  f. Pertambangan dan galian (pasir, batu, granit, batu-bara, biji besi, emas, perak, minyak);
2) sektor industri \pengolahan (kimia, tekstil, pengecoran logam, mesin, kendaraan, makanan, minuman, barang kerajinan, barang seni, perakitan, peralatan rumah tangga, obat-obatan);
3) sektor perdagangan (membeli dan menjual barang);
4) sektor jasa (komunikasi, transportasi, konstruksi,  bengkel las, bengkel sepeda motor, bengkel mobil, bengkel elektronika, jasa antaran, pengobatan, jasa hiburan, jasa pementasan, promotor pertandingan, penelitian, pelatihan, pemberdayaan, konsultasi).

Peluang usaha yang diminati, kemudian dievaluasi  dengan memberi nilai antara 1 sampai dengan 10  pada masing-masing faktor berikut :

1) besarnya permintaan pasar,

2) ketersediaan sumber daya,

3) kesederhanaan teknologi produksi,

4) kecilnya kebutuhan modal usaha

5) tingginya tingkat laba usaha,

6) rendahnya tingkat risiko usaha,

7) kuatnya daya saing di pasar,

8) pendeknya siklus usaha,

9) stabilnya harga bahan baku dan barang jadi,

10) tidak adanya limbah.

Dalam bahasa yang sederhana sering disebutkan bahwa usaha skala mikro sebaiknya dipilih yang bersifat ”quick yielding”,  artinya cepat menghasilkan, diminta oleh pasar, memerlukan modal kecil, teknokogi sederhana dan risiko usaha yang rendah.

Peluang usaha yang diminati, kemudian dievaluasi  dengan memberi nilai antara 1 sampai dengan 10  pada masing-masing faktor berikut :

1) besarnya permintaan pasar,
2) ketersediaan sumber daya,
3) kesederhanaan teknologi produksi,
4) kecilnya kebutuhan modal usaha
5) tingginya tingkat laba usaha,
6) rendahnya tingkat risiko usaha,
7) kuatnya daya saing di pasar,
8) pendeknya siklus usaha,
9) stabilnya harga bahan baku dan barang jadi,
10) tidak adanya limbah.
Dalam bahasa yang sederhana sering disebutkan bahwa usaha skala mikro sebaiknya dipilih yang bersifat ”quick yielding”,  artinya cepat menghasilkan, diminta oleh pasar, memerlukan modal kecil, teknokogi sederhana dan risiko usaha yang rendah.
2.  Mengenal diri
Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu melakukan ikhtiar untuk mengenal diri sendiri. Disadari tahapan ini bukan pekerjaan yang mudah. Upaya dapat dilakukan melalui renungan pribadi sejujur-jujurnya, namun lebih baik dengan meminta bantuan sahabat dekat, atau dalam kelompok kecil yang sudah akrab. Secara umum penilian diri dilakukan dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri dengan mengacu pada ciri-ciri kepribadian yang diperlukan untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Ini akan menyangkut; kesehatan, minat, sikap, kebiasaan, penggunaan waktu, penggunaan uang, disiplin, motivasi, kesabaran, kerajinan, ketekunan, SMS positif, pengetahuan, ketrampilan dll. Kemudian diteruskan dengan pertanyaan reflektif; adakah peluang (kemauan dan kemampuan kita) untuk memupuk kekuatan dan merobah kelemahan-kelemahan diri yang dapat diperbaiki. Adakah faktor-faktor dari dalam diri maupun dari luar yang mengancam kelangsungan dan keberhasilan usaha. Semua itu dilakukan agar upaya membangun kepribadian wirausaha dan kemampuan mengelola usaha — sesuai pilihan jenis usahanya –,  serasi dan mendukung.
3.  Belajar dari teman
Meski seorang calon wirausahawan telah bertekad bulat untuk memulai usaha, pilihan usahanya telah ditetapkan, sumber modal telah diiperoleh namun harus diakui kalau masih ada keraguan didalam hatinya untuk mulai.
Baginya berusaha adalah pengalaman baru. Suasana kejiwaan menghadapi pengalaman baru yang tegang dan kurang percaya diri harus dapat diterima sebagai kenyataan yang umum (universal). Bantuan terbaik menghadapi kesulitan psikologis itu adalah memberikan kesempatan untuk mengalami pada situasi sebenarnya dengan tanpa risiko. Kesempatan semacam itu adalah ”magang” atau belajar dari usaha teman atau orang lain yang sudah berjalan atau bahkan sudah berkembang. Kelemahan magang terjadi karena tidak terjadwal secara sistimatis sehingga peserta dapat belajar dan menguasi seluruh aspek dan siklus usaha secara lengkap. Program magang, sebaiknya dilakukan dengan persiapan pada kedua belah pihak secara cermat agar peserta dapat memperoleh pengalaman  dalam aspek : 1) perencanaan usaha, 2) proses produksi (atau belanja barang dagangan), 3) promosi dan pemasaran 4) penjualan dan pelayanan konsumen, 5) pencatatan usaha, 6) jenis risiko dan penangananya, 7) pengelolaan keuangan usaha, 8) monitoring, evaluasi dan pengendalian usaha.
4.  Membuat rencana usaha
Beberapa tahapan penting sudah kita lewati. Tekad untuk melakukan usaha sudah bulat, jenis usaha sudah kita pilih, kesadaran akan kekuatan, dan kelemahan diri sudah kita  temukan dan dengan ikhlas ingin memperbaiki. Sebelum memulai kita harus membuat rencana usaha. Pemikiran dasar menyusun rencana usaha adalah; — besarnya nilai penjualan dalam satu periode (hari, minggu, bulan) yang dapat menghasilkan laba usaha untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup keluarga –.

5.  Menghitung, mencegah dan menanggulangi risiko
Tidak ada usaha yang tanpa risiko. Warga miskin sudah kenyang dengan risiko hidup; kesengsaraan dan penderitaan akibat kemiskinan.  Oleh karena itu, mereka perlu diyakinkan untuk melakukan segala ikhtiar yang terbaik tanpa dihantui oleh risiko dalam memulai usaha. Namun demikian, mengajak mereka untuk memperhitungkan, mencegah dan menanggulangi risiko sangatlah penting. Risiko tak terduga (force major) berupa bencana alam, gempa, kebakaran tidak perlu diperhitungkan karena juga tidak ada perusahaan asuransi yang mau memberikan jasa perlindungan. Hanya diperlukan kehati-hatian.
Risiko dirampok, dicuri hasil penjualannya atau digusur tempat usahanya mungkin lebih nyata. Pencegahanya, harus cermat dalam memilih lokasi dan menyimpan uang. Risiko usaha dapat beraneka ragam, tergantung pada jenis usahanya. Kerusakan bahan baku, ticegah dengan memilih pemasok yang teruji dan dapat dipercaya dengan penyimpanan  bahan baku yang sudah dibeli sesuai karakteristiknya. Risiko kerusakan barang jadi karena proses produksi; harus dicegah dengan menetapkan cara dan urutan proses produksi yang baku, memahirkan tenaga produksi, ketaatan kepada formula yang baku, dan pengendalian mutu dalam setiap tahapan. Risiko barang jadi yang tidak laku harus dicegah dengan jumlah produksi yang sesuai dengan permintaan pasar. Kalau baru bisa menjual 100 unit, tidak perlu membuat 200 unit. Perlu pengetahuan teknis untuk menyimpan produk jadi yang belum laku untuk dijual pada hari/periode berikutnya; sepanjang tidak merusak mutu barang yang kita jual. Jalan lain harus dicari agar dapat menggunakan barang jadi yang tidak laku sebagai bahan baku produk lanjutan.
Risiko kekurangan modal kerja harus dicegah dengan perencanaan kas yang seksama, tidak menjual secara kredit dan tidak menggunakan uang hasil penjualan untuk keperluan diluar usaha. Untuk produksi barang yang memerlukan tenaga dengan keakhlian sangat khusus dapat menimbulkan risiko ketergantungan yang harus dicegah dengan kemampuan pemik untuk membuat sendiri. Risiko persaingan harus dicegah dengan meningkatkan dan mempertahankan mutu barang dan layanan kepada konsumen dan pelanggan. Bila perlu dengan ikhtiar khusus yang ”mengikat batin” (misalnya memberikan kenangan pada hari ulang tahun mereka, menengok saat ada yang sakit).
6.  Mencari sumber modal
Idealnya, pelaku usaha pemula harus menggunakan modal sendiri. Dengan begitu, kalau usaha mengalami kegagalan, tidak menimbulkan beban berupa utang. Namun modal pinjaman ada juga sisi baiknya, karena akan menyebabkan pelaku usaha menjadi lebih serius dan hati-hati dalam menjalankan usaha. Jalan yang paling lazim adalah campuran, 50% modal sendiri dan 50% bersumber dari utang. Posisi inipun bagi warga miskin tidaklah mudah, oleh karena itu UPK memberikan pelayanan pinjaman dana bergulir untuk modal usaha, termasuk bagi pelaku usaha pemula tanpa mensyaratkan modal sendiri. Bagaimanapun sebaiknya pelaku usaha perlu menyiapkan modal sendiri antara 15-25% dari kebutuhan modal usaha. Sebagian dari dana milik sendiri itu akan ditabung sebagai dana tanggung renteng (untuk pinjaman pertama ). Pada pinjaman berikutnya bagian modal sendiri disyaratkan lebih besar, dengan pinjaman yang lebih besar untuk mengembangkan usaha.
Memulai usaha dengan pinjaman dana bergulir dari UPK harus diperlakukan sebagai kesempatan belajar usaha. Harapanya kalau usaha sudah berkembang dapat berhubungan sendiri secara langsung dengan lembaga keuangan (LKM, Bank atau Modal ventura) dengan jumlah pinjaman yang lebih besar untuk mengembangkan volume usaha. Mitos orang miskin tidak melakukan usaha karena tidak ada modal dalam kenyataannya tidaklah benar, yang benar karena belum memiliki kepribadian wirausaha.

Dan pada akhirnya, dari tulisan ini mudah-mudahan bisa menambah semangat dan memperkokoh keyakinan kita untuk memulai usaha secara mandiri. PERUBAHAN BUKANLAH SEKEDAR PERSOALAN WAKTU, NAMUN HARUS DICIPTAKAN…

Oleh : Muh Herlani Qosim

About these ads

4 responses

  1. dewa

    saya ingin membuat usaha, tetapi pada persiapannya tidak segampang yg saya kira. mengenai tempat usaha, karyawan, dan pasar, kadang2 bersebrangan. amn ya kira2.

    24 November, 2010 pukul 2:20 PM

  2. Agus

    Mas Dewa, memang sindrom untuk memulai sebuah usaha kebanyakan adalah kebingungan menentukan hal-hal dasar yang mesti dilakukan terlebih dahulu. dengan perhitungan yang sedemikian rupa, juga tingkat spekulasi yang harus diputuskan, dan lain sebagainya. Tapi apakah memang harus sampai seperti itu? saya kira tidak. usaha dapat dimulai walaupun belum ada hal yang ideal dalam perhitungan-perhitungan yang sudah disyaratkan. misal dalam perhitungan ada persyaratan tempat(lokasi) dimana usaha akan dibuka, berapa jumlah karyawan yang ideal, juga target pasar yang ada, dan sebagainya. pada kondisi ideal memang harus memenuhi persyaratan diatas hingga usaha bisa berjalan sesuai perhitungan, Tapi ingat!! hampir semua enterpreneur memulai usahanya dari “NOL” jauh dari kondisi ideal. mereka memulai dengan segala keterbatasan, hanya keyakinan atas spekulasi dan semangat kerja lah yang jadi landasan.

    toh usaha berjalan pasti tidak sama dengan teori. kenapa mesti takut? Berseberangan mengenai aspek-aspek yang mas Dewa perhitungkan bisa disilangkan dengan kondisi lainnya. sehingga usaha bisa dijalankan dulu tanpa harus menunggu pasar harus ramai, karyawan harus lengkap, lokasi harus strategis dan lainnya.

    Begitu Mas Dewa, pendapat dari saya. Semangat dan Yakin lah.

    Trims.
    Agus(admin)

    26 November, 2010 pukul 8:39 AM

  3. nama nya usaha pasti ada resiko nya ???? saya ingin membuka usaha bengkel tapi tidak ada biaya , menrut anda bagaimana solusi nya .

    21 September, 2011 pukul 3:07 AM

  4. Ali

    Maaf Bang/Agan/Mas numpang share ya, Bagi Pemula yang ingin mendapatkan penghasilan tanpa modal silakan masuk ke :
    http://cashforvisits.com/?refcode=334872 hanya dengan klik NEW REGISTER dengan masukkan username dan email serta data pribadi sesuai KTP kamu maka kamu sudah dapat $25 sebagai bonus setara Rp 275.000,- dan bisa dicairkan melaui Western Union di seluruh kantor pos seluruh Indonesia jika nilai uang kamu sudah mencapai $300, gampangkan coba aja mas/bang … gak rugi kok… karna tidak ada modal…alias benar-benar gratis.

    9 Februari, 2014 pukul 7:35 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.